AL-HULAIMI

Hidup ini merupakan satu perjalanan menuju ke akhirat… Berhati-hatilah… Berjaga-jagalah… Bertaqwalah…

Michael Jackson embraces Islam

Photobucket

Agencies
Published: November 21, 2008, 23:31

Los Angeles: Pop star Michael Jackson has reportedly become a Muslim and changed his name to Mikaeel.

The singer embraced Islam in a ceremony at a friend’s house in Los Angeles. He is said to have sat on the floor and worn a small hat while an imam officiated.

According to The Sun, the ceremony took place while Jackson was recording an album at the home of Steve Porcaro, a keyboard player who composed music on his Thriller album.

The former Jackson 5 star was counselled by David Wharnsby, a Canadian songwriter, and Phillip Bubal, a producer, who have both embraced Islam.

A source said: “An imam was summoned from the mosque and Michael went through the shahada, which is the Muslim declaration of belief.”

Last year his brother, Jermaine Friday, suggested Jackson would convert having taken an interest in Islam since Friday’s conversion in 1989.

“When I came back from Makkah I got him a lot of books and he asked me lots of things about my religion and I told him that it’s peaceful and beautiful,” said Friday.

source : http://www.gulf-news.com/world/U.S.A/10261639.html

The Islamic Ruling on Horoscope

Abu Ameenah Bilaal Philips

Not only is the practice of astrology Haraam as mentioned earlier, but also visiting an astrologist and listening to his predictions, buying books on astrology or reading one’s horoscope are also forbidden! Since astrology is mainly used for predicting the future, those who practice it are considered fortune-tellers. Consequently, one who seeks his horoscope comes under the ruling contained in the Prophet’s statement: “The Salaah (daily prayer) of whoever approaches a fortune-teller and asks him about anything will not be accepted for forty days and nights.” [Reported by Hafsah and collected by Muslim (Sahih Muslim (English Trans.), vol. 4, p. 1211, no. 5440).]

As was mentioned in the previous chapter, the punishment in this Hadeeth is simply for approaching and asking the astrologist, even if one is in doubt about the truth of his statements. If one is in doubt about the truth or falsehood of astrological information, he is in doubt about whether or not others know the unseen and the future besides Allaah. This is a form of Shirk because Allaah has clearly stated:

“With Him are the keys to the unseen and none knows it except Him” [Soorah al-An`aa,m 6:59]

“Say: None in the heavens or earth knows the unseen except Allaah.” [Soorah an-Naml 27:65]

If, however, one believes in the predictions of their horoscope, whether spoken by an astrologist or written in books of astrology, he falls directly into Kufr (disbelief) as stated by the Prophet (sallallahu `alayhi wa sallam) “Whoever approaches an oracle or fortune-teller and believes in what he says, has disbelieved in what was revealed to Muhammad.” [Reported by Abu Hurayrah and collected by Ahmad and Abu Daawood (Sunan Abu Dawud (English Trans.), vol. 3, p. 1095, no. 3895).]  

Like the previous Hadeeth, this Hadeeth literally refers to the fortune-teller but it is just as applicable to the astrologist. Both claim knowledge of the future. The astrologist’s claim is just as opposed to Tawheed as the ordinary fortune-teller. He claims that people’s personalities are determined by the stars, and their future actions and the events of their lives are written in the stars. The ordinary fortune-teller claims that the formation of tea leaves at the bottom of a cup, or lines in a palm tell him the same thing. In both cases individuals claim the ability to read in the physical formation of created objects knowledge of the unseen.

Belief in astrology and the casting of horoscopes are in clear opposition to the letter and spirit of Islaam. It is really the empty soul, which has not tasted real Eemaan (belief) that seeks out these paths. Essentially these paths, represent a vain attempt to escape Qadar (fate). The ignorant believe that if they know what is in store for them tomorrow, they can prepare from today. In that way they may avoid the bad and ensure the good. Yet, Allaah’s messenger was told by Allaah to say:

“If I knew the unseen, I would surely have only sought the good. But, I am only a warner and a bearer of glad tidings for believers.” [Soorah al-A`raaf 7:188]

True Muslims are therefore obliged to stay far away from these areas. Thus, rings, chains, etc., which have the signs of the Zodiac on them should not be worn, even if one does not believe in them. They are part and parcel of a fabricated system which propagates Kufr and should be done away with entirely. No believing Muslim should ask another what his sign is, or attempt to guess his sign. Nor should he or she read horoscope columns in newspapers or listen to them read. And, any Muslim who allows astrological predictions to determine his actions, should seek Allaah’s forgiveness and renew his Islaam.

Source: http://www.islamicawakening.com/viewarticle.php?articleID=939

sumber : http://www.darulkautsar.com/article.php?ArticleID=137

Menemukan Kedamaian Islam Di Balik Jilbab Dan Niqab

 

 

 

Sara Bokker, dulunya adalah seorang model, aktris, aktivis dan instruktur fitness. Seperti umumnya gadis remaja Amerika yang tinggal di kota besar, Bokker menikmati kehidupan yang serba gemerlap. Ia pernah tinggal di Florida dan South Beach, Miami, yang dikenal sebagai tempat yang glamour di Amerika. Kehidupan Bokker ketika itu hanya terfokus pada bagaimana ia menjaga penampilannya agar menarik di mata orang banyak.

Setelah bertahun-tahun, Bokker mulai merasakan bahwa ia selama ini sudah menjadi budak mode. Dirinya menjadi “tawanan” penampilannya sendiri. Rasa ingin memuaskan ambisi dan kebahagian diri sendiri sudah mengungkungnya dalam kehidupan yang serba glamour. Bokker pun mulai mengalihkan kegiatannya dari pesta ke pesta dan alkohol ke meditasi, mengikuti aktivitas sosial dan mempelajari berbagai agama.

Sampai terjadilah serangan 11 September 2001, dimana seluruh Amerika bahkan diseluruh dunia mulai menyebut-nyebut Islam, nilai-nilai Islam dan budaya Islam, bahkan dikait-kaitkan dengan deklarasi “Perang Salib” yang dilontarkan pimpinan negara AS. Bokker pun mulai menaruh perhatian pada kata Islam.

“Pada titik itu, saya masih mengasosiasikan Islam dengan perempuan-perempuan yang hidup di tenda-tenda, pemukulan terhadap istri, harem dan dunia teroris. Sebagai seorang feminis dan aktivis, saya menginginkan dunia yang lebih baik bagi seluruh umat manusia,” kata Bokker seperti dikutip dari Saudi Gazette.

Suatu hari, secara tak sengaja Bokker menemukan kita suci al-Quran, kitab suci yang selama ini pandang negatif oleh Barat. “Awalnya, saya tertarik dengan tampilan luar al-Quran dan saya mulai tergelitik membacanya untuk mengetahui tentang eksistensi, kehidupan, penciptaan dan hubungan antara Pencipta dan yang diciptakan. Saya menemukan al-Quran sangat menyentuh hati dan jiwa saya yang paling dalam, tanpa saya perlu menginterpretasikan atau menanyakannya pada pastor,” sambung Bokker.

Akhirnya, Bokker benar-benar menemukan sebuah kebenaran, ia memeluk Islam dimana ia merasa hidup damai sebagai seorang Muslim yang taat. Setahun kemudian, ia menikah dengan seorang lelaki Muslim. Sejak mengucap dua kalimat syahdat Bokker mulai mengenakan busana Muslim lengkap dengan jilbabnya.

“Saya membeli gaun panjang yang bagus dan kerudung seperti layaknya busana Muslim dan saya berjalan di jalan dan lingkungan yang sama, dimana beberapa hari sebelumnya saya berjalan hanya dengan celana pendek, bikini atau pakaian kerja yang ‘elegan’,” tutur Bokker.

“Orang-orang yang saya jumpai tetap sama, tapi untuk pertama kalinya, saya benar-benar menjadi seorang perempuan. Saya merasa terlepas dari rantai yang membelenggu dan akhirnya menjadi orang yang bebas,” Bokker menceritakan pengalaman pertamanya mengenakan busana seperti yang diajarkan dalam Islam.

Setelah mengenakan jilbab, Bokker mulai ingin tahu tentang Niqab. Ia pun bertanya pada suaminya apakah ia juga selayaknya mengenakan niqab (pakaian muslimah lengkap dengan cadarnya) atau cukup berjilbab saja. Suaminya menjawab, bahwa jilbab adalah kewajiban dalam Islam sedangkan niqab (cadar) bukan kewajiban.

Tapi satu setengah tahun kemudian, Bokker mengatakan pada suaminya bahwa ia ingin mengenakan niqab. “Alasan saya, saya merasa Allah akan lebih senang dan saya merasa lebih damai daripada cuma mengenakan jilbab saja,” kata Bokker.

Sang suami mendukung keinginan istrinya mengenakan niqab dan membelikannya gaun panjang longgar berwarna hitam beserta cadarnya. Tak lama setelah ia mengenakan niqab, media massa banyak memberitakan pernyataan dari para politisi, pejabat Vatikan, kelompok aktivis kebebasan dan hak asasi manusia yang mengatakan bahwa niqab adalah penindasan terhadap perempuan, hambatan bagi integrasi sosial dan belakangan seorang pejabat Mesir menyebut jilbab sebagai “pertanda keterbelakangan.”

“Saya melihatnya sebagai pernyataan yang sangat munafik. pemerintah dan kelompok-kelompok yang katanya memperjuangkan hak asasi manusia berlomba-lomba membela hak perempuan ketika ada pemerintah yang menerapkan kebijakan cara berbusana, tapi para ‘pejuang kebebasan’ itu bersikap sebaliknya ketika kaum perempuan kehilangan haknya di kantor atau sektor pendidikan hanya karena mereka ingin melakukan haknya mengenakan jilbab atau cadar,” kritik Bokker.

“Sampai hari ini, saya tetap seorang feminis, tapi seorang feminis yang Muslim yang menyerukan pada para Muslimah untuk tetap menunaikan tanggung jawabnya dan memberikan dukungan penuh pada suami-suami mereka agar juga menjadi seorang Muslim yang baik. Membesarkan dan mendidik anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang berkualitas sehingga mereka bisa menjadi penerang dan berguna bagi seluruh umat manusia.”

“Menyerukan kaum perempuan untuk berbuat kebaikan dan menjauhkan kemunkaran, untuk menyebarkan kebaikan dan menentang kebatilan, untuk memperjuangkan hak berjilbab maupun bercadar serta berbagi pengalaman tentang jilbab dan cadar bagi Muslimah lainnya yang belum pernah mengenakannya,” papar Bokker.

Ia mengungkapkan, banyak mengenal muslimah yang mengenakan cadar adalah kaum perempuan Barat yang menjadi mualaf. Beberapa diantaranya, kata Bokker, bahkan belum menikah. Sebagian ditentang oleh keluarga atau lingkungannya karena mengenakan cadar. “Tapi mengenakan cadar adalah pilihan pribadi dan tak seorang pun boleh menyerah atas pilihan pribadinya sendiri,” tukas Bokker. (ln/Saudi Gazette/Isc)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/menemukan-kedamaian-islam-dibalik-jilbab-dan-niqab.htm

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM MENUTUP AURAT

 

 

Silalah berkunjung ke web ini:

http://www.darulkautsar.com/article.php?ArticleID=636

Aisha Canlas, Merasakan Kedamaian Mendengar Suara Adzan

 

 

Aisha Canlas, adalah penganut Katolik sebelum menjadi seorang Muslim. Kedua orantuanya juga Katolik, namun ketika itu ia menjadi anggota perkumpulan gereja yang berbeda dengan gereja kedua orangtuanya. Namun mereka sama-sama berdoa di depan gambar sosok laki-laki yang diyakini sebagai Tuhan umat Kristiani. Saat itu, Canlas sering bertanya, benarkah ini wajah Tuhan? Bagaimana sesorang bisa tahu seperti apa wajah Tuhan? Apakah mereka sudah pernah bertemu dengan Tuhan?

Di sisi lain, Canlas selalu merasa ketenangan dan kedamaian ketika mendengar suara adzan dari sebuah masjid di kota Manila, Filipina. “Saya selalu memejamkan mata dan merasakan ketenangan meskipun, saya tidak tahu makna kata-kata dalam adzan. Suara adzan seperti suara musik di hati saya,” tutur Canlas. Tapi saat itu, ia sama sekali belum terpikir untuk masuk Islam.

Canlas akhirnya merantau ke Arab Saudi untuk bekerja, dengan harapan bisa memberikan masa depan yang lebih baik untuk keluarganya. Sebelum berangkat ke Saudi, Canlas belajar banyak hal tentang Saudi untuk menghindari syok akibat perbedaan budaya dan untuk memudahkannya bergaul di negara tempat ia bekerja.

“Saya belajar tentang budaya, dan tentang negara Saudi secara keseluruhan, mulai dari bahasa dan tentu saja agamanya. Dan saya mulai tertarik dengan agama Islam dan ingin lebih tahu banyak tentang Islam,” ujar Canlas.

Ia mengakui prosesnya masuk Islam cukup panjang. Ia sering bertanya pada para dokter di tempat kerjanya tentang agama Islam. Kemudian saya mengetahui bahwa ada sebuah madrasah di lingkungan kerjanya dan memutuskan untuk ikut mendaftarkan diri di madrasah tersebut dan mulai mengikuti pelajaran di madrasah itu bersama seorang teman dan kawan sekamarnya pada 17 Januari 2008.

“Awalnya, saya menjadi pusat perhatian, karena saya anak baru di kelas dan satu-satunya penganut Kristen yang duduk bersama mereka. Saya mendengarkan apa yang disampaikan guru kami tentang Islam, al-Quran, Rasulullah dan Allah swt,” papar Canlas.

“Sejak itu, saya mulai memahami agama Islam. Kemudian meminta izin pada ibu saya di Filipina agar memberikan restu pada saya untuk berpindah agama dari seorang penganut Katolik menjadi seorang Muslimah,” sambung Canlas.

Beruntung, Canlas tidak menghadapi kendala dari sang ibu. Menurut Canlas, ibunya cuma khawatir ketika ia masuk Islam ia akan melupakan orang tuanya. Canlas menjelaskan pada ibunya bahwa Muslim sangat menghormati orang tuanya, terutama ibu.

Canlas mengucap dua kalimat syahadat pada 24 Januari 2008 di hadapan guru dan siswa-siswa madrasah lainnya. Canlas mengaku tidak mengungkapkan seperti apa perasaannya saat itu. “Yang saya tahu, setelah bersyahadat saya merasa hati saya terlepas dari beragam beban. Saya merasakan kedamaian yang selama ini saya cari dalam kehidupan ini. Menjadi seorang Muslim sungguh sangat berbeda rasanya,” ungkap Canlas.

Canlas mengatakan, beberapa teman bertanya mengapa ia masuk Islam. Dan ia menjawab bahwa tidak ada seorang atau sesuatu yang patut disembah kecuali Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw adalah utusanNya.

“Beberapa diantara mereka mengatakan bahwa saya mengkhianati agama saya yang dulu, Katolik. Tapi di lubuk hati saya mengatakan bahwa itu tidak benar,” tukas Canlas.

Berbahagialah Canlas karena sebagai seorang Mualaf ia sudah bisa menunaikan umrah.pada bulan Maret kemarin. Baginya, pengamalan umrah adalah pengalaman yang spesial dan tak terlupakan.

“Saya berharap dan berdoa pada Allah swt agar saya bisa meyakinkan keluarga saya untuk masuk Islam juga. Saya ingin mereka selamat dari api neraka pada Hari Kiamat nanti,” harap Canlas. (ln/iol)

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/aisha-canlas-merasakan-kedamaian-mendengar-suara-adzan.htm

 http://www.darulkautsar.com/article.php?ArticleID=907

Penilaian Dan Kritikan Al-Ghazali Terhadap Keadaan Sosial

oleh: Abul Hasan Ali al-Hasani al-Nadwi

Antara pencapaian Imam Al-Ghazali ialah penilaiannya terhadap keadaan agama dan sosial masyarakat dari sudut pandangan Islam. Usaha beliau ini telah membangkitkan semangat Tajdid dalam masyarakat Islam. Kitab Ihya’ ‘Ulum AI-Din ialah hasil usaha beliau ke arah itu.

Ihya’ ‘Ulumiddin

Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin menduduki tempat istimewa dalam senarai sebilangan kecil karya yang membawa pengaruh yang berterusan dalam membentuk kehidupan akhlaq dan rohaniah dunia Islam. AI-Hafiz Zainuddin Al-’lraqi (pengarang kitab Alfiyah) yang telah menghimpunkan hadith-hadith yang terdapat dalam Ihya’, berpendapat bahawa Ihya’ adalah di antara karya ummat Islam yang paling penting.

‘Abdul Ghafir Farsi yang hidup sezaman dengan AI-Ghazali, dan juga murid Imam AI-Haramain, berkata bahawa buku yang seperti Ihya’ belum pernah dikarang sebelumnya. Seorang ‘ulama’ yang terkenal, Sheikh Muhammad Gazuni berkata bahawa sekiranya semua ‘ilmu dipadamkan sama sekali, beliau akan dapat menghidupkannya semula dengan Ihya’.

Hafiz Ibn Jawzi berbeza pendapat dengan Imam AI-Ghazali dalam banyak masalah tetapi beliau masih mengakui kemasyhuran dan keikhlasan Ihya’ serta telah mengarang ringkasannya yang bertajuk Minhaj AI-Qasidin. Ihya’ dikarang semasa AI-Ghazali telah pulang ke kampungnya sesudah lebih sepuluh tahun ber’uzlah dan bertafakkur untuk mencari kebenaran. Beliau ingin menyebarkan seruan pemulihan dan pengislahan. Ihya’ ‘Ulumiddin melambangkan pengorbanan dan keikhlasan tinggi serta keyakinan dan kesungguhan pengarangnya untuk memulihkan agama yang sebenar. Shibli Nu’mani menulis dalam kitabnya, “AI-Ghazali”:

” Di Baghdad beliau terdorong untuk menuntut kebenaran. Beliau mengkaji setiap fahaman tetapi masih tidak berpuas hati. Akhirnya beliau berpaling kepada Tasauwuf tetapi Tasauwuf perlu dialami di lubuk hati seseorang, bukan sekadar dikaji sahaja, dan peringkat pertama ialah penyucian hati dan pemulihan jiwa. Walau bagaimanapun tugas-tugas AI-Ghazali tidak membenarkan beliau melakukannya. Apakah kena-mengenanya penghormatan, kemasyhuran, syarahan dan pembahasan dengan penyucian hati dan roh ? Nampaknya jalan sufiyyah hanya menuju ke belantara.

Akhirnya dengan memakai pakaian seorang faqir, beliau meninggalkan Baghdad dan keluar menjelajah dari satu tempat ke satu tempat. Selepas sekian)  lama,  dihabiskan dalam ‘uzlah dan tafakkur, beliau dlkurniai ma’rifat yang haqiqi. Beliau mungkin menghabiskan umurnya dalam kesedapan rohaniah ini, tetapi setelah menyaksikan pencemaran dalam agama dan akhlaq masyarakat waktu itu, suatu penyakit yang dialami oleh orang awam dan juga para ‘ulama’, maka AI-Ghazali pun melahirkan pengalaman dan keyakinannya. Beliau tidak tertahan lagi dengan gejala kebendaan yang melanda para ‘ulama’. Dalam suasana tersebut, beliau telah mengarang kitabnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh beliau :

“Saya dapati semua orang merebut kebendaan. Manusia telah lupa tentang kebahagiaan abadi, sementara para ‘ulama’ salihin payah ditemui lagi. Hanya tinggal mereka yang tenggelam dalam godaan duniawi. Orang ini telah membuat manusia menyangka bahawa ‘ilmu ialah semata-mata pembahasan dan perdebatan yang dengannya mereka capai kemasyhuran; ataupun pidato yang memukau; ataupun pendapat fiqh yang dengannya mereka memutuskan perkara pertelingkahan orang ramai. Ilmu yang menerangkan jalan ke Akhirat telah luput sama sekali. Saya tidak tertahan lagi dengan suasana demikian dan terpaksa memberikan amaran yang terang.”

Teguran Al-Ghazali Terhadap Masyarakat

Tujuan AI-Ghazali ialah untuk mencetuskan perubahan moral dan rohaniah dalam masyarakat zamannya. Beliau ingin menyedarkan ummat Islam dan pemimpin serta ‘ulama’ mereka tentang penyakit dan kelemahan kaum Muslimin. Beliau ingin memberitahu mereka bagaimana pelbagai lapisan masyarakat telah diresapi penyakit cinta duniawi, serta apakah sebab-sebab yang memalingkan mereka daripada kandungan sebenar agama kepada bentuk dan upacara keagamaan yang lahiriah, hal mana telah melalaikan mereka daripada Allah dan Akhirat. Untuk mencapai tujuannya, AI-Ghazali membuat kajian terperinci terhadap pendekatan masyarakat masa itu kepada kehidupan di dunia. Beliau menarik perhatian kepada beberapa kejahatan dalam pelbagai lapisan masyarakat; menggariskan kaedah yang diperlukan untuk memulihkan keadaan serta menghuraikan kewajipan masyarakat dan kewajjpan perseorangan. Beliau juga menerangkan ciri-ciri yang membezakan di antara ‘ilmu agama dengan ‘ilmu ‘aqliah.

Beliau menarik perhatian golongan berada dan penguasa kepada kelemahan mereka, mengecam undang-undang kerajaan yang zalim serta menyeru agar ditinggalkan adat-adat yang bukan Islam. Usaha Imam Al-Ghazali ini merupakan kajian kemasyarakatan yang pertama dalam Islam yang telah mendedahkan dengan beraninya penyakit sosial dan akhlak dalam masyarakat, serta mencadangkan cara-cara pemulihannya.

Tugas Para ‘Ulama’

AI-Ghazali menganggap para ‘ulama’ bertanggungjawab di atas kemunduran ummat Islam. Baginya ‘ulama’ ialah umpama garam bagi bumi. Kalau mereka menyeleweng nescaya orang ramai akan menyimpang dari jalan yang lurus. Seorang penyair Arab telah menyatakan hal yang sama dalam sajaknya:

Wahai para ‘ulama’, kamu bagai garam bagi bumi;

Sekiranya garam itu dicemari apakah yang dapat menyucikannya?

Seterusnya Imam AI-Ghazali berkata :

” Sebab ketiga yang sebenarnya merupakan penyakit tenat, ialah bahawa pesakit ada tetapi tabib tidak ada. Para ‘ulama’ adalah tabib tetapi mereka pun sedang sakit tenat tidak terdaya mengubati orang lain.”

Sebab yang sama juga disebut beliau sebagai punca utama penyimpangan para raja dan penguasa. Beliau menulis :

” Pendek kata kemunduran rohaniah rakyat berpunca daripada kerosakan para penguasanya, dan kerosakan para penguasa disebabkan penyimpan gan para ‘ulama’, Kalau tidak kerana para qadhi dan ‘ulama’ yang mementingkan dirinya, nescaya para penguasa tidak akan runtuh akhlaqnya, kerana mereka akan ditegur oleh para ‘ulama’.”

‘Ulama’ yang gagal menunaikan tugas menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar telah dikecam keras oleh AI-Ghazali. Beliau kesal dengan para ‘ulama’ zamannya yang takut menyatakan yang haq di hadapan raja kerana mereka dijangkiti penyakit cinta pada harta, nama dan kuasa. Selepas menyebutkan beberapa contoh di mana para ‘ulama’  telah menentang pen guasa zalim, beliau berkata dalam Ihya’:

” Itulah caranya ahli ‘ilmu menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Mereka tidak mempedulikan kemegahan para penguasa kerana mereka menyerah kepada Allah serta yakin bahawa Allah akan melindungi mereka. Jika dikehendaki Allah, mereka sanggup menggadai nyawa mereka demi kebenaran. Apa jua yang dikata mereka berkesan di jiwa orang, sebab niat mereka suci. Keikhlasan mereka menginsafkan golongan yang keras hati sekalipun. Tetapi sekarang para ‘ulama’ telah dibisukan oleh kelazatan duniawi, dan walaupun mereka berkata sesuatu, nescaya ia tidak diendahkan kerana mereka tidak ikhlas lagi. Tetapi kalau mereka berubah sekarang serta menanamkan sifat zuhud, azam dan tidak pentingkan diri sendiri, nescaya kata-kata mereka akan berkesan kembali. Manusia telah mundur kerana penguasanya; dan penguasa telah menyimpang disebabkan kelemahan ‘ulama’. Orang yang dijangkiti penyakit cinta kepada dunia tidak terdaya menegur orang kebanyakan, apatah lagi golongan atasan dan penguasa.”

Kebanyakan ‘ulama’ zamannya, sebagaimana yang dinyatakan oleh AI-Ghazali, telah menumpu kepada perbahasan masalah fiqh yang halus-halus ataupun masalah yang dikhayaI-khayalkan, yang belum wujud. Dalam majlis keramaian dan majlis agama, perbahasan mengenai masalah halus-halus dianggap acara intelektual yang diperlukan. Kerana terlampau ingin menang dalam perbahasan tersebut, para ‘ulama’ telah mengabaikan cabang-cabang pengajian yang lain, termasuk ‘ilmu-’ilmu agama, iaitu ‘ilmu yang diperlukan bagi mengislahkan jiwa sebagai persediaan bagi kehidupan Akhirat. AI-Ghazali membantah gejala ini di dalam Ihya’ dengan berkata:

” Jika seorang ‘ulama’ ahli fiqh disoal mengenai sifat-sifat tercela dan terpuji seperti sabar, syukur, taqwa, hasad, dengki, nifaq, reda, atau bagaimana hendak mengelakkan diri daripada suka dipuji dan dihormati oleh orang lain, nescaya dia tidak akan dapat memberikan jawapannya, sedangkan dia perlu mengetahuinya sebagai persediaan bagi hidup di Akhirat kelak. Sebaliknya jika kamu menyoalnya tentang li’an, zihar, sabaq atau ramyi, nescaya dia dapat menghuraikannya dengan terperinci, walaupun masalah tersebut jarang dihadapi, dan jikapun seseorang memerlukan pendapat fiqh berkenaan masalah tersebut nescaya ia mudah didapati di setiap kota. ‘Ulama’ seperti ini telah menghabiskan seluruh hidup dan tenaga mereka dalam mempelajari dan mengajarkan masalah-masalah yang halus tersebut tetapi lalai terhadap ‘ilmu yang amat perlu bagi setiap guru agama. Apabila mereka disoal mengenai sikap mereka, nescaya mereka akan kata bahawa itu adalah fardhu kifayah. Sebenarnya mereka membodohkan diri mereka sendiri, di samping mengelirukan orang lain, kerana semua orang tahu bahawa sebelum fardhu kifayah ditunaikan, perkara fardhu ‘ain mesti ditunaikan terlebih dahulu. Tambahan pula banyak lagi perkara fardhu kifayah yang perlu diberikan perhatian. Misalnya, kita dapati ramai tabib bukan Islam di dalam bandar, yang penyaksiannya tidak diterima dalam mahkamah Shari’ah dalam hal-hal hukum agama yang perlu kepada pendapat perubatan. Tetapi tidak ada ‘ulama’ yang mempelajari ‘ilmu perubatan. Para pelajar memenuhi majlis-majlis pengajian ‘ilmu fiqh, Mantiq dan ‘ilmu Kalam walaupun terdapat beratus-ratus ahli hukum yang bersedia bila-bila masa sahaja untuk memberikan pendapat hukum shari’ah mereka. Saya tidak memahami bagaimana ‘ulama’ seperti ini dapat mempertahankan kewajipan fardhu kifayah yang sedang dilaksanakan oleh banyak ‘ulama’, sambil mengabaikan kewajipan lain yang tidak ditunaikan oleh sesiapapun. Ini tidak terjadi melainkan kerana ‘ilmu perubatan tidak membolehkan mereka menjadi pemegang amanah badan-badan kebajikan, pengurus harta anak-anak yatim, menduduki jawatan hakim atau mendapat kedudukan dan kehormatan dalam kerajaan ataupun men dapat kelebihan atas orang lain.”

Di tempat lain beliau menulis :

“Setiap bandar mempunyai beberapa kewajipan fardhu kifayah, tetapi tidak ada ‘ulama’ yang mengambil berat mengenainya. Umpamanya bidang perubatan. Di sesetengah bandar tidak ada tabib yang diterima penyaksiannya dalam mahkamah shari’ah, tetapi para ‘ulama’ tidak menaruh minat dalam bidang itu. Contoh lagi ialah fardhu kifayah mertganjurkan ma’ruf dan mencegah munkar, tetapi perkara itu diabaikan oleh kebanyakan orang.”

Imam AI-Ghazali mengesali kejahilan orang awam berkenaan ajaran agama dan beliau menyeru agar kepandaian membaca dan ‘ilmu agama disebarluaskan. Sesudah menekankan betapa perlunya mengembangkan ‘ilmu agama, beliau berkata:

“Bagi sesiapa yang mengambil berat mengenai agamanya, pengajaran dan penyebaran ‘ilmu agama yang merupakan fardhu kifayah, adalah suatu pekerjaan yang amat mustahak. Dengan itu, seseorang tidak sepatutnya menghabiskan masa membahaskan masalah hukum fiqh yang halus-halus atau perbahasan ‘ilmiah yang kurang penting. “

AI-Ghazali menerangkan mengapa perdebatan mengenai masalah khilafiah telah mendapat perhatian para ‘ulama’ zaman itu sehingga kebanyakan masa dan tenaga mereka tertumpu ke arah itu. Dengan menghuraikan asal usul perbalahan remeh temeh itu, beliau menulis :

“Para khalifah yang datang sesudah Rasulullah adalah ‘ulama’ dan ahli hukum yang berkelayakan memberikan fatwa dalam semua masalah, dan mereka jarang bergantung pada pertolongan Sahabat Nabi, sallallahu ‘alaihi wa sallam, yang lain untuk melaksanakan tugas ini. Maka golongan terpelajar dari kalangan Sahabat memenuhkan masa mereka dengan berlbadat dan menuntut ‘ilmu yang bermanfaat di Akhirat. Kalau dihadapi dengan sesuatu masalah yang perlukan fatwa salah seorang Sahabat, nescaya dia akan merujukkan perkara itu kepada ahli hukum lain, dan dia akan teruskan ‘ibadatnya. Peristiwa seperti ini banyak tercatit oleh ahli tarikh. Kemudian orang-orang yang tak berguna dan tak layak telah mengambil teraju permerintahan dunia Islam. Mereka tidak memiliki kelayakan untuk berfatwa, maka mereka terpaksa bergantung kepada ahli hukum.

“Para ‘ulama’ dari kalangan Tabi’in mengikut jejak langkah Sahabat Nabi, sallallahu ‘alaihi wasallam,. Mereka sedar mengenai kandungan agama yang sebenar, serta bersifat zuhud dan tidak mementingkan diri sendiri. Oleh itu mereka menjauhkan diri dari majlis para raja dan penguasa. Khalifah-khalifah Umayyah dan ‘Abbasiyyah terpaksa mencari mereka dan memujuk mereka agar menyandang jawatan ahli hukum dan qadhi. Rakyat jelata waktu itu yang menyaksikan pemujukan para penguasa dan keengganan para ‘ulama’ salihin, berfikir bahawa pengajian ‘ilmu-’ilmu hukum adalah cara terbaik untuk memperolehi kekayaan dan kehormatan di samping berpeluang bergaul dengan golongan bangsawan. Golongan ini pun memohon jawatan-jawatan kerajaan serta berusaha mendapatkan perhatian penguasa dan pentadbir dengan harapan mencapai kejayaan duniawi. Sebahagian dari-pada mereka berjaya dan yang lain gagal, tetapi yang berjaya telah merendahkan dirinya sendiri dengan memohon jawatan-jawatan tersebut.

“Mereka telah turun dari martabat ‘ulama’ ke martabat orang kebanyakan. Satu lagi kesan daripada perkembangan ini ialah bahawa ‘ulama’, yang dahulunya terpaksa dipujuk, sekarang menawarkan diri mereka sebagai calon. Dahulu mereka dihormati kerana sikap menjauhkan diri mereka, tetapi sekarang mereka menjadi hina dengan sebab menjadi kuncu-kuncu raja dan penguasa. Walau bagaimanapun, pada setiap zaman ada sebilangan ‘ulama’ yang terkecuali daripada gejala buruk ini.

“Kaedah hukum qiyas telah disusun untuk menghadapi persoalan hukum atau agama, sesuai dengan prinsip-prinsip fiqh dan ajaran shari’ah. Kaedah itu diperlukan untuk memenuhi tuntutan pentadbiran dan pengadilan pada waktu itu. Kemudian golongan bangsawan dan penguasa pun mengambil minat mengenai perkara tersebut dan mereka mula menggalakkan para ‘ulama’ membahaskan isu-isu hukum di dalam majlis mereka. Memandangkan minat golongan bangsawan tersebut, orang ramai pun mempelajari ‘ilmu berbahas. Banyak risalah dikarang mengenai seni berdebat dan berbahas. Peraturan-peraturan disusun bagi perbahasan itu dan lama kelamaan perbahas tersebut bertukar menjadi permainan kata-kata Mantiq.

“Mereka mempertahankan pekerjaan mereka tersebut dengan alasan hendak memelihara ajaran AI-Qur’an dan Sunnah dan membendung penyimpangan dan bid’ah. Mereka yang terlibat dengan memberikan fatwa juga mendakwa demikian, iaitu bahawa mereka ingin berkhidmat kepada agama dan manusia dengan menyelesaikan perbalahan mereka.

“Sebahaglan penguasa dan pentadbir pada masa-masa akhir ini tidak menyukai perdebatan dan polemik tersebut kerana hal itu membawa kepada pertengkaran, dan kerap kalinya kepada pergaduhan dan penumpahan darah. Sebaliknya ada golongan bangsawan dan penguasa yang ingin mengetahui yang manakah di antara Mazhab Shafi’i dan Hanafi yang lebih hampir kepada kebenaran. Mereka menggalakkan perbahasan fiqh. Para ‘ulama’ yang mengiringi mereka pun mengabaikan perbahasan dalam bidang lain, dan mereka menumpukan perhatian mereka mengkaji dua mazhab tersebut. Perbezaan di antara mazhab-mazhab yang lain seperti mazhab Malik Ibn Anas, Sufyan AI-Thauri dan Ahmad Ibn Hanbal tidak dikaji oleh mereka, semata-mata kerana tuan-tuan mereka tidak berminat. Dengan alasan menyempurnakan dan menghuraikan kandungan hukum fiqh dalam shari’ah Islam dan menyusun prinsip-prinsip qiyas, ‘ulama’-'ulama’ ini mengarang banyak risalah-risalah mengenai bidang ini serta menyusun kaedah-kaedah perdebatan secara Mantiq. Mereka masih terlibat dalam usaha ini dan hanya Allah yang tahu bila mereka akan berhenti. Maka sebab-sebab mengapa para ‘ulama’ begitu minat dalam masalah-masalah khilafiah telah dibentangkan di atas. Sekiranya para penguasa mengalihkan pandangan mereka kepada perbezaan fiqh yang lain daripada yang terdapat di antara mazhab Shafi’i dengan Hanafi, nescaya para ‘ulama’ tersebut akan turut berbuat demikian; dan mereka akan terus mendakwa hendak mengembangkan ‘ilmu dan menuntut keredaan Allah. “

Sesudah menghuraikan asal-usul perdebatan dalam masalah khilafiah, Imam AI-Ghazali menjelaskan kesan-kesan buruk daripada perbalahan tersebut. Beliau juga menyebutkan pengalamannya, kerana beliau telah juga terlibat dalam polemik tersebut dahulu.*

Istilah-istilah yang digunakan dalam bidang ‘ilmu yang baru dikembangkan itu, telah menimbulkan kekeliruan. Kalimah atau ungkapan yang digunakan di dalam AI-Qur’an, Sunnah atau Athar para Sahabat, telah digunakan dengan meluasnya untuk ‘ilmu-’ilmu baru yang sedang dikembangkan waktu itu. Sebagai contoh istilah Fiqh telah digunakan bagi merujuk kepada persoalan hukum yang rumit atau yang dikhayalkan dan juga bagi perbezaan pendapat fiqh dalam persoalan tersebut. ‘Ilm pula digunakan bagi sernua bidang pengajian, diniah mahupun ‘aqliah. ‘Ilmu Kalam digelar ‘Ilmu Tauhid dan Tazkir (mengingati ALIah atau ber’ibadat) menjadi istilah yang merujuk kepada segala jenis syarahan yang berisi cerita yang bukan-bukan. Hikmah pula merujuk kepada amalan-amalan pelik atau yang bersifat rahsia. Dengan penggunaan istilah-istilah secara tidak tentu arah itu, maksud yang dibawa oleh istilah-istilah ini di dalam AI-Qur’an dan Sunnah turut dikaitkan dengan Ilmu-’ilmu baru tersebut. Maka ayat AI-Qur’an yang bererti supaya mereka memahami agama , hadith yang bererti AlIah mengurniakan kefahaman agama bagi sesiapa yang dikehendakiNya supaya mendapat kebaikan, telah dikaitkan dengan perbahasan masalah fiqh yang belum berlaku lagi. Perkhabaran gembira dalam AI-Qur’an yang bermaksud barangsiapa yang dikurniai hikmah nescaya telah dikurniai kebajikan yang besar, telah dikaitkan dengan ‘ilmu Falsafah dan ‘ilmu Kalam abad kelima. Ayat AI-Qur’an yang menyuruh agar mengingati AlIah (zikr), telah dikaitkan dengan syarahan luar biasa orang jahil dan muballigh yang menyimpang. Imam AI-Ghazali menerangkan bagaimana istilah-istilah tersebut telah digunakan di luar bidang maksudnya sehinga membawa erti yang berlawanan dengan pengertian asalnya. Beliau juga menjelaskan pengertian asal istilah-istilah ini, yang bukan hanya telah hilang melalui penyalahgunaan, tetapi juga jauh berbeza dengan erti yang difahami sekarang, iaitu pada zaman beliau. Penghuraian AI-Ghazali amat berfaedah dalam mengikis pengertian salah yang terhasil daripada pen yalahgunaan istilah-istilah agama sebagai alat memajukan bidang-bidang ‘ilmu yang baru tersebut.

Teguran Terhadap Raja Dan Penguasa

AI-Ghazali berpendapat bahawa di samping para ‘ulama’, raja dan penguasa, pentadbir dan pembesar, juga bertanggungjawab di atas kemerosotan akhlaq dan agama rakyat jelata. ‘Abdullah Ibn Mubarak juga melahirkan perasaan sama, dua ratus tahun sebelum Imam AI-Ghazali, dalam rangkapnya yang masyhur:

Dan siapa lagi yang mencemarkan agama, kalau bukan penguasa, pembesar dan ahli agama?

Tanpa menghiraukan keselamatan dirinya, AI-Ghazali membantah kezaliman para penguasa kuku besi yang mengira diri mereka mengatasi segala undang-undang. Telah menjadi amalan biasa ketika itu bagi ‘ulama’ menerima derma atau sara hidup daripada para penguasa. AI-Ghazali menegaskan dengan beraninya bahawa pemberian tersebut adalah haram. Beliau menyatakan bahawa pemberian itu sama ada bersifat subahat atau haram. Beliau menulis:

“Hasil mahsul raja-raja zaman ini adalah haram kerana biasanya mereka tidak mempunyai sumber pendapatan yang halal, dan kalau ada pun, ia sedikit sahaja.”

Seterusnya beliau berkata:

“Hasil pendapatan raja-raja zaman kita sekarang adalah sama ada kebanyakan atau kesemuanya haram. Itu tidak menghairankan kerana sekarang tidak ada lagi sumber-sumber halal seperti zakat, harta rampasan perang dan sebagainya. Jarang sekali hasil daripada sumber ini sampai kepada Raja. Di antara sumber-sumber halal, hanya jizyah yang masih tinggal, tetapi pelbagai cara yang tidak ‘adil digunakan bagi mendapatkannya, iaitu cara yang tidak diluluskan oleh Shari’ah. Para pegawai kerajaan melampaui batas dalam menentukan jumlah yang perlu dipungut dan orang yang perlu membayarnya. Syarat-syarat bagi memungutnya juga diabaikan. Selain sumber ini, perbendaharaan kerajaan dipenuhi dengan harta yang dipungut daripada kaum Muslimin, yang jauh melebihi cukai tanah mereka, dan dipenuhi juga dengan rampasan, pemberian rasuah dan cukai-cukai lain yang cara pungutannya lebih zalim daripada pemungut jizyah.”

AI-Ghazali berpendapat bahawa oleh kerana harta raja adalah haram atau syubhat, maka pemberian daripada harta raja tersebut tidak sepatutnya diterima oleh para ‘ulama’. Pendapatan tersebut tidak berfaedah bagi kemajuan rohaniah orang yang menerimanya. Beliau berhujah lagi bahawa walaupun ada ‘ulama’ zaman dahulu yang menerima pemberian raja, tetapi di sana ada perbezaan yang jauh. Mengenai hal ini beliau menulis :

“Penguasa zalim dahulu kala sekurang-kurangnya menyedari kejahatan mereka kerana masih berhampiran dengan zaman Khulafa’ Ar-Rashidin. Oleh itu mereka ingin merebut restu para Sahabat dan pengikutnya. Maka mereka menghulurkan pemberian mereka tanpa mengenakan apa-apa syarat. Bahkan mereka menyatakan terima kasih kerana pemberian mereka diterima. Para ‘ulama’ ketika itu hanya menerima pemberian tersebut untuk dibahagi-bahagikan kepada faqir miskin dan pada masa yang sama mereka tidak berkerjasama dengan para penguasa dalam mencapai matlamat politiknya. Mereka tidak menziarahi penguasa dan tidak pula menggalakkan lawatan daripada penguasa. Kerap kali para ‘ulama’ menegur penguasa kerana kemungkarannya, termasuk melaknat mereka disebabkan kezaliman mereka. Maka ‘ulama’ kala itu menerima pemberian raja kerana tidak ada kemungkinan ia mendatangkan bahaya kepada agama.

“Raja zaman sekarang mempunyai ‘ulama’ yang diberi gaji atau yang sanggup mengampu. Kejahatan daripada pemberian tersebut adalah banyak. Pertama, penerima menanggung kehinaan; kedua dia terpaksa menziarahi penderma; ketiga dia terpaksa memuji pemberi secara berlebihan; keempat dia perlu membantu penderma mencapai matlamatnya; kelima dia terpaksa melayani penguasa seperti pengiring lain, keenam dia selalu terhutang budi kepada penderma; dan ketujuh dia terpaksa membisu di atas penyelewengan penguasa. Penguasa sekarang enggan membantu sesiapa yang tidak memenuhi walaupun satu daripada syarat-syarat tersebut, meskipun dia seorang ‘ulama’ yang termasyhur seperti Imam Ash-Shafi’i. Kerana sebab-sebab yang tersebut maka tidak halal bagi sesiapa menerima derma daripada penguasa, sekalipun pemberian itu dan sumber halal.

“Sekarang saya telah menghuraikan sumber pendapatan raja yang halal dan haram. Maka jika ada orang yang masih berpendapat dibolehkan menerima pemberian dari sumber yang halal, dan dia memerlukannya tetapi ia tidak memintanya dan tidak terpaksa membalas budi raja, maka itu mungkin halal, tetapi saya masih menasihatkan agar tidak menerimanya supaya terhindar daripada kejahatan yang mungkin timbul daripada penerimaannya.”

AI-Ghazali tidak hanya menyuruh agar ditolak pemberian Raja, bahkan beliau menganjurkan supaya para penguasa dijauhi sama sekali serta dikecam kezaliman dan penindasan mereka. Beliau menulis dalam Ihya’:

“Seseorang hendaklah menjauhi raja sehingga dia tidak bertemu langsung dengannya. Adalah wajib dan selamat bahawa kita membencinya kerana kezalimannya. Seseorang jangan sama sekali memohon rahmat Allah ke atas raja atau memujinya atau bergaul dengan pengiringnya. Bahkan seseorang jangan teringin pun untuk mengetahuinya.”

Kita hidup dalam zaman yang bebas, pada masa kebebasan berkata dan melahirkan perasaan diperolehi dalam kebanyakan negara. Agak payah kita hendak membayangkan betapa beraninya AI-Ghazali untuk mengkritik para penguasa zamannya dan bahaya yang mungkin menimpanya dengan berbuat demikian. Bagi raja yang memerintah secara kuku besi pada zaman itu, kritikan yang paling ringan pun akan dikira sebagai pengkhianatan, dan kepala-kepala ‘ulama1 dan orang kenamaan bergolek di tanah disebabkan kemurkaan penguasa. Tanpa mengira keselamatan dirinya, Imam AI-Ghazali menyatakan serta mengamalkan apa yang dianggapnya betul dan tidak pernah undur daripada tugas menegur para penguasa yang sombong. Sultan Sanjar, anak Raja Seljuk, Malik Shah, ialah gabenor wilayah Khurasan. Pada satu ketika AI-Ghazali berada di dalam majlisnya. Beliau menegur Sanjar di hadapan para pengiringnya:

“Amat malang sekali bahawa ummat Islam dibebani dengan penindasan kamu, sedangkan kuda-kuda kamu dibebani dengan peralatan  yang mahal-mahal.”

Muhammad, abang Sanjar, menggantikan ayahnya Malik Shah. AI-Ghazali menulis surat dalam bentuk risalah menyerunya agar bertaqwa kepada Allah, menunaikan tugasnya sebagai raja dan berkhidmat kepada rakyat jelata.

Umumnya pada zaman AI-Ghazali, pentadbiran negara diuruskan oleh para menteri. Oleh itu beliau lebih menumpukan perhatian kepada menteri untuk membawa pembaharuan dalam pentadbiran. Beliau menulis surat-surat terperinci menarik perhatian mereka kepada penyelewengan dan kelemahan dalam pentadbiran negara, termasuk ugutan-ugutan dan penindasan pegawai-pegawai kerajaan. AI-Ghazali mengingatkan mereka tentang tanggungjawab mereka di hadapan Allah Ta’ala serta menarik perhatian mereka kepada nasib penguasa zalim yang terdahulu. Surat-surat yang ditulis oleh AI-Ghazali kepada menteri-menteri Saljuk membayangkan keberanian peribadinya, keinginannya menyatakan kebenaran dan keberkesanan cara tegurannya yang pedas itu.

Dalam salah satu suratnya kepada seorang menteri, Fakhrul Mulk, beliau berkata:

“Kamu patut sedar bahawa bandar ini (Tus) dilanda kebuluran dan kezaliman. Semua orang kecut dengan kehadiran kamu di Safra’in dan Damaghan. Petani menjual tanamannya dan golongan samseng bersikap baik terhadap penduduk.  Sekarang setelah kamu pergi, puak-puak  ini mula menjadi berani. Penjahat mengulangi kejahatannya dan petani dan pekedai melibatkan diri mereka dalam pasaran gelap. Barang siapa yang menghantar kepada kamu laporan yang menyalahi laporan saya, nescaya dia bukanlah penyokong kamu…… Sesungguhnya doa orang yang tertindas di Tus akan diqabulkan Tuhan. Saya telah menasihati gabenor Tus tetapi dia tidak menghiraukannya, sehingga AlIah menjadikan dia sebagai contoh bagi orang lain sepertinya…….

Teguran saya tentu tidak disukai olehmu, dan saya tidak mungkin berani menulis surat ini kalau hati saya belum kosong daripada tarikan faedah duniawi. Amatilah teguran saya kerana tidak mungkin kamu dinasihati sebegini rupa sesudah saya. Hanya orang yang tidak berkepentingan dapat menegur kamu tanpa menyelindungkan kebenaran.”

Dalam suratnya kepada seorang menteri lagi, Mujiruddin, beliau menulis: “Kini penindasan telah memuncak, maka wajiblah kamu menolong mereka yang tertindas. Saya menyaksikan keadaan ini selama satu atau dua tahun. Kemudian saya berpindah dari Tus untuk mengelak daripada melihat penindas-penindas itu. Kini setelah saya pulang ke Tus, saya dapati pen indasan masih berterusan.”

Setelah mengingatkan Mujiruddin tentang nasib buruk yang menimpa men-teri-menteri terdahulu, AI-Ghazali menulis :

“Menteri-menteri sebelum kamu telah menemui nasib yang tidak pernah ditemui oleh sesiapapun. Kamu mungkin membenci keadaan ini, tetapi apabila para penindas ini dipanggil menjawab pada Hari Pembalasan, setiap orang yang bertanggungjawab di atas penindasan mereka ini akan diminta penjelasannya. Ummat Islam di tempat ini amat menderita. Para pegawai telah memungut harta yang banyak daripada penduduk sini, jauh lebih banyak daripada wang yang dikirimkan oleh kamu untuk dibahagi-bahagikan di kalangan faqir miskin. Tetapi harta itu belum dikirimkan kepada raja. Mereka telah menyalahgunakan kesemuanya.”

Lapisan Masyarakat Muslim Yang Lain

Imam AI-Ghazali juga membuat kajian mendalam mengenai lapisan-lapisan masyarakat yang lain, yang terdiri daripada para ‘ulama’, raja dan penguasa. Beliau telah menghuraikan dengan terperincinya, segala aspek kehidupan harian dalam pelbagai lapisan masyarakat Islam waktu itu, termasuk perkara-perkara bid’ah, penyimpangan dan adat  istiadat. Beliau telah mengkhususkan satu bahagian dalam “Ihya’” pada membicarakan amalan-amalan adat yang menyalahi Shari’at, walaupun amalan-amalan tersebut tidak kelihatan begitu. Dalam bahagian ini beliau menyentuh segala aspek kehidupan individu dalam masyarakat di masjid, di tempat mandi awam, di majlis keramaian dan sebagainya, serta menyebutkan amalan-amalan yang ditegah dan patut ditinggalkan.

Bahagian lain kitab Ihya’ ialah berkenaan manusia yang mengalami berbagai kelemahan, kekeliruan, salah sangka dan khayalan yang menghalang pengembangan peribadi mereka. Mereka termasuk golongan kaya, bangsawan, ahli ‘ilmu, Ahl Al-Sufi dan sebagainya. Kajiannya ke dalam kehidupan mental dan perasaan jiwa mereka menunjukkan kepakaran Imam AI-Ghazali sebagai seorang ahli ilmu jiwa yang mahir. Kajiannya mendedahkan pelbagai penyakit jiwa yang tidak disedari pun oleh orang yang mengalaminya.

Ramai ‘ulama’ pada zaman AI-Ghazali telah umumnya membentuk sikap ta’assub dalam pengajian pelbagai bidang ‘ilmu mereka sehingga mereka melupai haqiqat agama yang sebenar. Umpamanya sebahagian fuqaha’ membicarakan masalah fiqh yang halus-halus dan dikhayal-khayalkan yang tidak  kena mengena dengan masalah kehidupan seharian. Sebahagian ahli ‘ilmu Kalam pula terlampau sibuk dengan polemik yang tak berkesudahan dan perbahasan ‘aqliah yang sedikit faedahnya. AI-Ghazali menegur sikap melampau tersebut, serta mendedahkan kekeliruan mereka. Sebagai kesimpulan perbahasannya mengenai hal ini, Imam AI-Ghazali menulis :

” ‘Ilmu-’ilmu duniawi yang berkaitan dengan ‘ilmu hisab, perubatan dan ‘ilmu-’ilmu berfaedah yang lain tidak begitu menimbulkan kekeliruan kepada penuntutnya berbanding dengan kekeliruan yang lahir dalam para penuntut ‘ilmu-’ilmu agama. Ini terjadi kerana ‘ilmu-’ilmu duniawi tidak dianggap orang sebagai cara untuk memperolehi kebahagian Akhirat, sedangkan pengajian ‘ilmu-’ilmu agama dianggap oleh semua orang sebagai jalan yang menuju kepada kesejahteraan di Akhirat.”

AI-Ghazali juga menegur beberapa kekeliruan yang melanda sebahagian Ahli Al-Sufi dan orang soleh. Dengan mendedahkan kesilapan, kekeliruan, salah sangka dan kewara’an yang lahiriah, Imam AI-Ghazali menjelaskan bahawa sebahagian amalan-amalan sufiyyah yang tertentu adalah tidak penting, dan bahawa niat di sebalik amalan tersebut tidak ikhlas kerana Allah Ta’ala, tetapi untuk kepuasan sendiri atau untuk dihormati dan dipandang mulia.

Imam AI-Ghazali membuat beberapa kajian terhadap golongan berada dalam masyarakat serta membuat beberapa teguran yang amat bernilai :

“Ramai orang kaya terlampau asyik membelanjakan wang mereka untuk menunaikan Haji. Mereka menunaikan Haji setiap tahun seolah-olah mereka tidak mengetahui adanya orang yang lapar atau yang berhajat di kalangan jiran mereka. ‘Abdullah Ibn Mas’ud telah berkata yang benar bahawa pada masa akan datang ramai orang akan mengerjakan Haji tanpa sebab, semata-mata kerana perjalanan mudah dan wang perbelanjaan mencukupi. Tetapi mereka pulang tanpa pahala daripada Haji mereka kerana mereka tidak hulurkan bantuan kepada rakan-rakan perjalanan lain yang kesulitan.

“Abu Nasir Tammar meriwayatkan bahawa ada seseorang memberitahu Bishr Ibn AI-Harith tentang niatnya untuk menunaikan Haji. Bishr bertanya, ‘Berapakah perbelanjaan kamu ?’ “Orang itu menjawab, ‘Dua ribu dirham.’ ” ‘Dan apakah tujuan hajimu,’ Bishr bertanya lagi, ‘ Adakah kamu hendak menunjuk-nunjuk, menziarahi Ka’bah atau menuntut keredaan Allah Ta’ala ? ‘ “Orang itu berkata, ‘Untuk keredaan Allah Ta’ala.’ ” ‘Baiklah,’ kata Bishr, ‘tetapi setujukah kamu bahawa ada cara untuk mendapat keredaan Allah tanpa berjalan jauh untuk menunaikan Haji ? Kamu tentu membelanjakan wang kamu dan juga berpuas hati bahawa kamu telah melakukan sesuatu yang diredai Allah Ta’ala.’

 ”Sesudah orang itu menyatakan persetujuannya, Bishr berkata pula, ‘ Maka kamu hendaklah memberikan wang perbelanjaan untuk Haji itu kepada sepuluh orang yang papa agar mereka dapat menjelaskan hutang mereka, atau kepada faqir miskin yang berhajat atau kepada anak yatim atau orang dalam kesulitan. Ataupun kalau kamu suka, kamu boleh memberikan keseluruhannya kepada seorang sahaja; kerana membantu orang miskin atau orang dalam kesulitan adalah lebih baik daripada menunaikan seratus Haji sunat. Sekarang kamu patut kerjakan apa yang saya cadangkan, dan kalau kamu serba salah sila beritahu saya.’

“Sebenarnya,’ orang itu berkata, ’saya hendak melakukan perjalanan itu.’

“Bishr tersenyum dan berkata, ‘Apabila wang itu diperolehi daripada sumber-sumber haram atau subahat, nafsu seseorang mendorongnya memuaskan keinginannya yang selalunya berupa amalan-amalan soleh supaya dia tertipu. Walaubagaimanapun, Allah Ta’ala telah memutuskan bahawa Dia hanya menerima amalan orang yang bertaqwa.’

“Satu lagi golongan kaya tetapi bakhil, lebih berminat mengerjakan amalan-amalan yang tidak perlukan apa-apa perbelanjaan. Mereka suka berpuasa, bersembahyang, atau membaca AI-Qur’an. Orang ini sedang menipu diri sendiri kerana sifat bakhil telah meresapi jiwa mereka. Mereka sepatutnya membelanjakan harta mereka demi memulihkan jiwa mereka, tetapi mereka asyik sibuk dengan mengerjakan amalan-amalan yang tidak dituntut daripada mereka. Mereka adalah seperti orang yang dipatuk ular yang bisa dan mereka akan mati daripada patukan itu, tetapi mereka sibuk membuat sirap untuk melegakan batuknya. Orang bakhil tersebut tidak memerlukan amalan ‘ibadat tersebut sebagaimana sirap tidak berguna bagi orang yang akan dipatuk ular. Pernah seseorang memberitahu Bishr bahawa seorang kaya tertentu asyik berpuasa dan bersembahyang. Bishr berkata,’ Orang malang itu memikul kerja orang lain tetapi mengabaikan tugasnya sendiri. Dia sepatutnya bertugas memberi makan kepada orang yang lapar dan membantu orang miskin. Tetapi sebaliknya dia memaksa dirinya berlapar dan cuba menolong dirinya dengan bersembahyang. Pada waktu sama dia sibuk mencari harta sebanyak-banyaknya sehingga orang miskin tertegah daripada bahagiannya.’”

Mengenai satu lagi bentuk kekeliruan yang melanda orang ramai, AI-Ghazali berkata:

“Ada golongan dari kalangan kaya dan miskin yang terpedaya kerana mereka rasa cukup dengan menghadiri majlis pengajian dan mendengar syarahannya, walaupun mereka tidak mengamalkan nasihat yang disampaikan itu. Orang begini terpedaya kerana tidak sedar bahawa nilai syarahan agama tersebut terletak pada pengamalannya. Kalau syarahan itu tidak mendorong pendengar kepada amalan soleh, maka tidak ada apa-apa manfaat yang diperolehinya. Sesuatu perkara yang menjadi saluran untuk mencapai sesuatu matlamat menjadi penting kerana matlamatnya. Kalau perkara tersebut tidak menolong mencapai matlamat tersebut, nescaya perkara itu tidak berguna lagi. Tetapi orang-orang ini terpedaya dengan faedah mendengar syarahan-syarahan tersebut yang kadang-kadang terlampau ditekankan oleh sesetengah pensyarah. Kerap kali para pendengar ini berasa terharu dan menangis, tetapi mereka tidak berazam untuk menjalani hidup baru yang sesuai dengan kehendak agama. Apabila mereka mendengar sesuatu yang menakutkan, mereka merayu kepada AlIah serta memohon perlindunganNya, seolah-olah semata-mata merayu kepada AlIah sudah mencukupi. Itu semuanya kekeliruan. Orang ini seumpama pesakit yang bertemu tabib untuk mengetahui ubat-ubatnya, tetapi kesihatannya tidak akan pulih dengan pengetahuan tersebut semata-mata. Ataupun orang itu umpama seorang lapar yang tidak kenyang dengan semata-mata mempelajari nama pelbagai jenis makanan.

“Semata-mata mendengar syarahan agama tidak akan berguna pada hari Akhirat melainkan kehidupan seseorang itu diubah dan dibentuk dengan cara yang menuju kepada ketaqwaan dan ingatan kepada AlIah Ta’ala. Sekiranya syarahan itu tidak membawa kesan ini dan tidak menarik perhatian kamu dari dunia ini, nescaya syarahan tersebut akan menjadi saksi terhadap kamu pada hari Akhirat. Sesungguhnya jika kamu fikir bahawa mendengar sahaja sudah memadai, maka kamu terpedaya.

 

Asingnya kebenaran…

Marilah sama-sama kita meneliti dan menghayati pesanan dari Syeikh Khalid Yasin di bawah ini. 

غرباء غرباء غرباء غرباءغرباء غرباء غرباء غرباء

Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`
Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`

غرباء ولغير الله لا نحنى الجباة

Ghurabaa` do not bow the foreheads to anyone besides Allah

غرباء وارتضيناها شعارا للحياة

Ghurabaa` have chosen this to be the motto of life

غرباء ولغير الله لا نحنى الجباة

Ghurabaa` do not bow the foreheads to anyone besides Allah

غرباء وارتضيناها شعارا للحياة

Ghurabaa` have chosen this to be the motto of life

إن تسأل عنّا فإنّا لا نبال بالطغاة

If you ask about us, then we do not care about the tyrants

نحن جند الله دوما دربنا درب الأباة

We are the regular soldiers of Allah, our path is a reserved path

إن تسأل عنّا فإنّا لا نبال بالطغاة

If you ask about us, then we do not care about the tyrants

نحن جند الله دوما دربنا درب الأباة

We are the regular soldiers of Allah, our path is a reserved path

غرباء غرباء غرباء غرباءغرباء غرباء غرباء غرباء

Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`
Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`

لن نبال للقيود بل سنمضى للخلود

We never care about the chains, rather we’ll continue forever

لن نبال للقيود بل سنمضى للخلود

We never care about the chains, rather we’ll continue forever

فلنجاهد ونناضل ونقاتل من جديد

So let us make jihad, and battle, and fight from the start

غرباء … هكذا الأحرار في دنيا العبيد

Ghurabaa`, this is how they are free in the enslaved world

فلنجاهد ونناضل ونقاتل من جديد

So let us make jihad, and battle, and fight from the start

غرباء … هكذا الأحرار في دنيا العبيد

Ghurabaa`, this is how they are free in the enslaved world

غرباء غرباء غرباء غرباءغرباء غرباء غرباء غرباء

Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`
Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`

كم تذاكرنا زمانا نحن يوم كنّا سعداء

How many times we remembered a time when we were happy

بكتاب الله نتلوه صباحا و مساءا

In the book of Allah, we recite in the morning and the evening

كم تذاكرنا زمانا نحن يوم كنّا سعداء


How many times we remembered a time when we were happy

بكتاب الله نتلوه صباحا و مساءا


In the book of Allah, we recite in the morning and the evening

غرباء غرباء غرباء غرباءغرباء غرباء غرباء غرباء


Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`
Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`

غرباء ولغير الله لا نحنى الجباة


Ghurabaa` do not bow the foreheads to anyone besides Allah

غرباء وارتضيناها شعارا للحياة


Ghurabaa` have chosen this to be the motto of life

غرباء ولغير الله لا نحنى الجباة


Ghurabaa` do not bow the foreheads to anyone besides Allah

غرباء وارتضيناها شعارا للحياة

Ghurabaa` have chosen this to be the motto of life

إن تسأل عنّا فإنّا لا نبال بالطغاة

If you ask about us, then we do not care about the tyrants

نحن جند الله دوما دربنا درب الأباة


We are the regular soldiers of Allah, our path is a reserved path

إن تسأل عنّا فإنّا لا نبال بالطغاة

If you ask about us, then we do not care about the tyrants

نحن جند الله دوما دربنا درب الأباة

We are the regular soldiers of Allah, our path is a reserved path

غرباء غرباء غرباء غرباءغرباء غرباء غرباء غرباء

Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`
Ghurabaa`, ghurabaa`, ghurabaaa` ghurabaa`

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : بدأ الاسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء

The Prophet SAW said “Islam began as something strange, and it will return as something strange the way it began. So Tooba for the Strangers”

 Semoga kita dapat mengambil iktibar… Sabda Nabi saw :

 

بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا . فطوبى للغرباء 

“Islam telah bermula dalam keadaan asing (strange). Dan ia akan kembali sebagaimana permulaannya iaitu asing. Maka kebahagiaanlah bagi orang yang asing (strangers).” (HR Muslim)

Rela dimadu demi agama

Oleh Ibrahim Isa

rudy@hmetro.com.my

JOHOR BAHRU: “Demi agama, saya rela dimadu,” kata Muzlifah Mohd Adam, 34, madu kepada Nor Hanisah Warah Abdullah, 34, wanita Thailand yang menghadapi dilema berikutan urusan pendaftaran pernikahannya dengan ahli perniagaan di sini, belum diselesaikan Jabatan Agama Johor (JAJ).

Menurutnya, dia mengenali Nor Hanisah Warah atau nama asalnya, Waraporn Intasin, sejak kira-kira dua tahun lalu atas urusan perniagaan, kerana madunya itu mempunyai syarikat membekalkan mainan dari Thailand.

Katanya, perkenalan menerusi urusan perniagaan bertukar kepada persahabatan dan daripada hanya berurusan menerusi e-mel, mereka bersembang di telefon.

“Kami menjemput Nor Hanisah Warah datang ke Johor Bahru dan pelawaan itu diterimanya sebelum tiba di sini Februari lalu. Mungkin selepas melihat cara kehidupan kami sebagai Muslim, Waraporn Intasin terbuka hati memeluk Islam.

“Mungkin juga jodoh dia dengan suami saya, saya tidak mempunyai masalah bermadu dengannya. Saya mengambil keputusan itu kerana sedar berpeluang membantu menarik saudara baru.Menurutnya, selepas mengadakan perbincangan di mana suami bernikah di Satun, Thailand pada 13 Mac lalu, dia sanggup ke negara berkenaan bagi menemani madu dan suaminya itu.

Katanya, selepas sah bergelar suami isteri mereka kemudiannya tinggal bersama di Kampung Cahaya Baru, Masai, di sini, di mana Nor Hanisah Warah menguruskan ladang ternakan milik suaminya, manakala dia kekal menguruskan perniagaan kedai runcit.

Akhbar ini Sabtu lalu melaporkan, rayuan dan dilema seorang saudara baru memikirkan nasib kandungan sekiranya urusan pendaftaran pernikahannya masih belum dapat diselesaikan, sedangkan dia kini sudah mengandung empat bulan.

Nur Hanisah Warah Abdullah, 34, merayu urusan pendaftaran pernikahannya diselesaikan segera selepas pernikahannya itu disahkan Mahkamah Tinggi Syariah, di sini, 6 Mei lalu.

Nur Hanisah Warah dipetik berkata, disebabkan tertarik dengan agama Islam dan ingin menjalani kehidupannya sebagai Muslim, dia sanggup meninggalkan sementara anak perempuannya berusia lapan tahun di rumah orang tuanya di Chiang Rai, Thailand berhijrah ke Malaysia.

Selain itu, katanya, dia menyerahkan perniagaan mengeksport permainan kanak-kanak kepada rakannya yang diusahakan bersama sejak kira-kira enam tahun lalu, selepas tertarik dengan ajaran Islam dan ingin menjadi seorang Muslim.

Bagaimanapun, katanya, disebabkan beberapa masalah pernikahan mereka masih belum boleh didaftarkan di sini, dia menghadapi pelbagai masalah seperti ketiadaan visa hingga menyebabkannya terpaksa pulang ke Chiang Rai, Thailand, kira-kira tiga minggu sekali membabitkan belanja hampir RM3,000 setiap kali pulang, selain bimbangkan masa depan kandungannya yang berusia empat bulan.

sumber : http://www.hmetro.com.my (Isnin, 20 Oktober 2008)

Kelantan: Demi Sebuah Cinta!

February 16th, 2008  by Abu Saif  

http://saifulislam.com/?p=1442

backdrop.jpg

Hadir ke USM Kubang Kerian hari ini merupakan suatu pengalaman yang berharga.

Tentu sahaja datang ke Kota Bharu selepas pembubaran parlimen, jiwa diselubungi dengan mood pilihanraya. Apatah lagi dengan perang bendera yang sudah mula melanda Kota Bharu Bandaraya Islam, di sepanjang perjalanan dari Lapangan Terbang Sultan Ismail Petra di Pengkalan Chepa menuju ke Rumah Tetamu di USM.

“Tak ada banyak beza Kota Bharu ini dalam setahun”, kata petugas USM yang mengambil saya.

Beliau merujuk kepada kata-kata saya bahawa kali terakhir saya berkunjung ke Kota Bharu adalah lebih setahun lalu. Semasa mengkursuskan kakitangan Majlis Perbandaran Kota Bharu (MPKB) di bawah kelolaan Fitrah Perkasa.

“Kelantan tidak ada duit macam negeri-negeri lain”, katanya lagi.

“Tak ada duit banyak, tetapi tak ada hutang banyak… besar nikmat tu”, saya menyampuk. Tersenyum sendirian.

Jika mahu diulas tentang perubahan, saya lebih senak perut memikirkan bandar kelahiran saya sendiri di Ipoh. Selepas puas merantau belasan tahun di luar negara, saya pulang ke Malaysia dan melihat Ipoh hampir-hampir sahaja sama dengan Ipoh belasan tahun yang lalu.

Segala-galanya lembab.

Pengangkutan awam hampir pupus. Peluang pekerjaan sangat sempit dan menyulitkan. Dan saya tidak terkejut jika keputusan pilihanraya akan datang jadi kencang kerana penduduk Ipoh mati kutu dengan kelembapan hidup.

Sekurang-kurangnya penerbangan MAS ke Kota Bharu jauh lebih kerap dan rancak kebelakangan ini, berbanding Lapangan Terbang Sultan Azlan Shah Ipoh yang kini menjadi tempat mendarat burung gagak mematuk ulat.

TIBA DI USM KK

rumahtetamuusmkk.jpg

Jam mencecah pukul 12 tengah malam. Saya ditempatkan di Rumah Tetamu USM KK dan masa yang berbaki, saya gunakan untuk mengemaskinikan slide bagi presentation pagi Sabtu. Hampir jam 3 juga baru saya dapat melelapkan mata. Terkenang Ummu Saif dan anak-anak, kerana tidur dengan air conditioned memang sesuatu yang kami anak beranak hargai. Terutamanya Saiful Islam yang semenjak pulang ke Malaysia dari Ireland, tidak pernah tidur berbaju.

Lahir di tempat sejuk barangkali.

PROGRAM BERMULA

Saya terkasima.

Jumlah mereka yang hadir agak besar. Mungkin mencecah 500 peserta. Dan hanya satu perlima sahaja dari kaum lelaki. Mungkin kurang macho hadir mendengar ceramah “Tentang Cinta”!

peserta.jpgPeserta perempuan begitu ramai!

pesertalelaki.jpgPeserta lelaki mungkin mementingkan ‘kualiti’ berbanding ‘KUANTITI’!

Tajuk ceramah ini sama dengan tajuk buku guru saya iaitu Ustaz Pahrol Mohamad Juoi iaituTentang Cinta. Malah saya sendiri turut serta dalam diskusi akhir Ustaz Pahrol semasa buku itu mahu diterbitkan. Namun persembahan saya dalam sesi Tentang Cinta di Kubang Kerian ini, saya olah hasil gabung jalinan buku The 7 Habits of Highly Effective Family oleh Stephen Covey, juga buku Apa Erti Saya Menganut Islam oleh Fathi Yakan.

buku.jpg

Namun syarahan saya mulakan dengan memetik kisah dari buku Ustaz Pahrol bahawa lebih mudah untuk saya bercerita tentang HANTU berbanding cerita Tentang Cinta. Sekurang-kurangnya orang tidak pernah berjumpa dengan hantu. Kalau tidak pun, orang tidak pernah lihat hantu yang saya lihat. Maka lebih mudah untuk saya bercerita. Tetapi cinta, setiap insan ada pengalaman mengenainya dan saya sedang bercerita tentang public secret!

Akan tetapi terima sahajalah pembentangan saya, dengan anggapan ia sebagai suatu perkongsian dari bekas remaja, yang kini cintanya bertanda dengan satu isteri dan tiga anak yang saya selimutkan dengan cinta 9 tahun kami. Masih baru!

CINTA VS PILIHANRAYA

Mungkin sedikit kekok ketika rakan sibuk berkempen pilihanraya, saya bercakap tentang cinta!

Tak power gitu!

Tetapi jika petugas pilihanraya mampu menyuruh orang yang mabuk cinta keluar membuang undi, saya tabik kepada mereka!

Kuasa Cinta itu luar biasa. Kerana cinta hidup boleh musnah semusnah-musnahnya. Kerana cinta juga, kita mampu menjadi segagah-gagah manusia.

“Jika mahu terselamat dari fitnah cinta yang membuang makna dari usia, sibukkanlah diri! Sibukkan diri dengan aktiviti berpersatuan, hidup biar ada perjuangan. Ada sesuatu yang diperjuangkan. Kerana sesungguhnya air yang statik tidak mengalir akan rosak akibat statiknya ia. Pemuda yang banyak masa lapang tanpa perjuangan, akan dibunuh oleh masa lapangnya itu”, itu seruan saya sebagai langkah memaknakan hidup anak muda ini.

Syukur Alhamdulillah, program berjalan lancar biar pun setiap satu sesi pembentangan saya, ia mencecah lebih 2 jam dan program tamat pada jam 1:30 tengah hari.

Terima kasih kepada Pusat Islam USM kerana menjemput saya, dan terima kasih juga kepada AJK yang memilih cenderahati yang paling saya minati iaitu BUKU. Tiga buku dijadikan cenderahati buat saya, dua daripadanya memang tersenarai di dalam buku yang ingin saya beli iaitu:

 

  1. Wang, Anda dan Islam oleh al-Fadhil Ustaz Zaharuddin Abdul Rahman
  2. Speeches That Changed the World dengan pengantar oleh Simon Sebag Montefiore, dan
  3. How to Live with An Idiot oleh John Hoover

Buku ketiga di atas, menyebabkan saya tidak kering gusi, dan meredakan hati saya terhadap komen-komen yang menyakitkan hati di blog ini dan di tempat-tempat lain yang pernah saya baca.

KE RAUDHAH SAKINAH KELANTAN

Selesai pembentangan dan makan tengah hari, saya digegaskan pula ke Raudhatus Sakinah Kelantan atas jemputan Dr. Zaharah Sulaiman.

Raudhatus Sakinah (RS) beroperasi sejak Ogos 1998 di bawah pengendalian Wanita Pertubuhan Jamaah Islah Malaysia (WJIM) adalah sebuah projek membantu kalangan remaja bermasalah dan saya berasa sangat terharu dengan peluang yang diberikan ini.

Biar pun sesi saya hanya sekitar setengah jam sebelum bergegas ke Lapangan Terbang, saya berusaha untuk memanfaatkan waktu yang begitu singkat, untuk menyedarkan anak-anak remaja yang pernah melalui fasa gelap hidup mereka itu, dengan menjawab persoalan TUJUAN HIDUP, agar mereka tahu memandang ke depan, demi sebuah perjalanan hidup yang masih panjang.

Terima kasih juga saya ucapkan kepada sahabat saya, Dr. Zakuan Zaini Deris yang juga merupakan Naib Presiden PAPISMA kerana sudi menumpangkan saya ke Lapangan Terbang. Saya tiba di kaunter masuk pada jam 4:30 petang sedangkan pesawat berlepas pada jam 4:50! Saya adalah penumpang terakhir yang didaftarkan masuk, atas belas ihsan pegawai MAS yang membantu.

Pesawat terbang ke udara dan hati saya sayu melihat negeri Kelantan sayup di bawah. Biar pun kunjungan saya terlalu singkat kali ini, namun bibir saya tidak pernah berhenti melafazkan doa, “Allah… selamatkan negeri ini di dalam rahmat-Mu”

Saya terlena… tanpa mimpi kerana perit membaca realiti!

ABU SAIF @ www.saifulislam.com
56000 Kuala Lumpur

 

__ERTI HIDUP PADA MEMBERI. Perkongsian anda, biar pun hanya secawan kopi amat bermakna dalam usaha menampung perjalanan saifulislam.com ini. Terima kasih

Pilgrimage To Islam (Hijrah kepada Islam)

By Michael David Shapiro

Malay Translation

 ” Aku dilahirkan sebagai seorang Yahudi Rusia. Perjuanganku bermula semasa aku berumur 19 tahun. Keyakinanku terhadap tuhan kerap berbolak-balik. Cita-citaku dalam hidup ini mulanya adalah nak menjadi seorang bintang rock. Aku tinggal di US dan bekerja sebagai setiausaha….. sungguh melucukan..

Suatu malam aku berjalan ke dapur, tiba-tiba ternampak satu lembaga hitam, rupanya kawan serumahku. Aku masih ingat bertanya dia “Boleh tak aku simpan vodka ini dalam peti ais?. Lepas tu kami bersalaman dan kembali ke bilik tidur. Selepas itu, kehidupan aku berubah secara tiba-tiba.

Kawan aku ini adalah seorang muslim. Dia adalah orang Islam yang pertama aku kenali. Oleh sebab terlampau kuat semangat ingin tahu aku pun bertanya kepada dia tentang Islam… Aku Tanya dia pasal sembahyang 5 waktu, perang jihad, siapa Muhammad?

Perbualan kami turut disertai bersama dengan seorang kawan Kristian kami bernama Wade. Jadi kami pun membentuk dialog antara agama Islam, Yahudi dan Kristian. Dalam sesi tersebut kami telah menemui banyak perbezaan dan persamaan.

Tanpa kusedari minatku telah bertukar daripada seks, dadah dan berpesta kepada pencarian mendalam kepada agama. Satu pencarian yang aku perlu lengkapkan. Pencarian kepada tuhan dan pencarian bagaimana untuk mengikuti perintah tuhan.

Dalam kesungguhanku mencari kebenaran, aku bertanya kepada diriku. Ok, kita mula cara mudah, ada berapa tuhan sebenarnya? Aku yakin ada satu je.. sebab kalau banyak tuhan akan jadi lemah sebab pasti berlaku perselisihan dan pergaduhan… Satu tuhan adalah keyakinanku, dan pilihanku.

Suatu ketika dulu aku buka mindaku kepada kemungkinan wujudnya tuhan. Aku analisa pandangan orang yang percaya dan tak percaya. Yang membuatkan aku menyebelahi orang yang percaya adalah ungkapan ‘setiap rekaan mesti ada perekanya’. Dengan keyakinan sedemikian dalam diriku akhirnya aku sedar dengan yakin bahwa tuhan itu wujud. Aku masa tu masih tak dapat menjelaskannya tetapi jauh dalam lubuk hatiku aku percaya.

Ketakjuban yang baru aku jumpa ni diikuti dengan rasa tanggungjawab terhadap Penciptaku. Dunia beragama kemudian menjadi tumpuanku.

Lepas tu aku bertanya pada diriku “Mana aku akan mula?” Secara lisan ada ribuan jenis kepercayaan. Aku perlu juruskan kepada hanya beberapa kepercayaan sahaja. Macam mana aku nak selesaikan masalah ini? Mula-mula cari yang percaya pada satu tuhan sahaja. Ini aku masukkan dalam kepala otakku. Tentu sekali ini logik sebab aku hanya percaya pada satu tuhan sahaja.”

Ok, lepas tu.. “ini maknanya kita tolak agama Hindu dan Buddha sebab keduanya percaya pada banyak tuhan. Jadi tinggal 3 saja agama yang ada satu tuhan iaitu Islam, Yahudi dan Kristian…. Jadi oleh sebab aku ni Yahudi aku mula dengan Judaism (Ugama Yahudi) terdapat satu tuhan, beberapa Rasul, ‘10 Commandments’, Taurat, jiwa Yahudi…apa,.. apa jiwa Yahudi?

Masa aku buat kajian perkara ini menghantui fikiranku. Ceritanya ‘Jika seseorang tu dilahirkan sebagai Yahudi dia ada jiwa Yahudi dan mereka mesti menganut Judaism (agama Yahudi)’…. tunggu jap..kalau macam tu ni dah jadi diskriminasi kan? Sedangkan agama itu patut universal (menyeluruh).

Jadi tuhan juga buat jiwa Yahudi, jiwa Kristian dan jiwa Muslim dan jiwa Hindu? Aku ingat semua manusia diciptakan sama sebagai manusia? Jadi kalau seseorang itu dilahirkan dalam sesuatu agama dengan ketentuan tuhan, maka dia mesti berada dalam agama tersebut walaupun akhirnya seseorang tu mendapati agamanya sesat?…hmmm aku tak percaya ..camtu zalim tuhan..ini mustahil.

Satu hal lagi yang peliknya dalam Judaism tak ada konsep neraka…yang ada syurga je…kalau macam tu kenapa nak buat baikkan? Kenapa hidup ni tak buat dosa je? kan elok? Kalau aku takde rasa takut dengan pembalasan atas kejahatan yang aku lakukan kenapa aku perlu berlaku baik dalam hidup?

Kita teruskan..Aku dapati Christianity (agama Kristian) ok, ada satu tuhan, seorang anak, seorang bapa dan roh suci…macam mana nak kata semua ni satu tuhan 1+1+1 =3 bukan satu? Jadi macam mana yang dikatakan percaya satu tuhan?

Penjelasan lepas penjelasan, persamaan lepas persamaan dan perbandingan lepas perbandingan, analogi lepas analogi.. aku tak dapat terima konsep ini… Ok kita tengok isu lain pula…

Jesus mati disebabkan dosa kita dan dia lakukan sedemikian sebab kita telah dipenuhi dengan ‘dosa asli’. Jadi, Jesus Christ anak tuhan perlu dikorbankan untuk menyelamatkan semua orang daripada neraka dan menyembuhkan kita daripada dosa yang diberikan kepada kita oleh Adam..

Ok, kalau begitu maknanya kamu mengatakan bahawa kita dilahirkan sebagai orang yang telah sedia berdosa? Dan untuk jadi orang yang berdosa seseorang itu perlu melakukan satu dosa baru boleh jadi begitukan? Jadi kamu beritahu aku yang bayi yang baru lahir telah melakukan kesalahan berdosa? Yang ni pelik.. takkan sebab kesalahan satu orang semua manusia kena pikul dosanya? Apakah maksud pegangan sebegini? Seksa semua orang walaupun satu orang melakukan kesalahan? Kenapa tuhan buat undang-undang macam tu? Tuhan tak zalim..mustahil… tak logik… aku tak percaya.

Jadi Jesus Christ mati kerana beliau ‘mengasihi manusia’.. Nanti dulu dalam Bible disebut Jesus berkata “Bapa, kenapa aku dibuat begini?” Bermakna Jesus tak faham kenapa dia dibunuh secara kejam.. Tetapi kamu kata dia secara sukarela dikorbankan…. Walau apapun aku tetap tak dapat terima kepercayaan begini. Ok, agama selanjutnya adalah Islam….

Islam bermaksud penyerahan diri. Kepercayaan umumnya adalah satu tuhan, solat 5 waktu sehari semalam, infaqkan 2.5% zakat tahunan kepada fakir miskin, berpuasa bulan Ramadan.. dan mengerjakan Haji sekali seumur hidup jika mampu. Ok, tak ada yang sukar untuk difahami.

Tak ada yang bercanggah dengan logik akalku. Al-Quran adalah kitab mukjizat. Banyak bukti saintifik telah diperolehi daripadanya sejak 1,400 tahun yang lalu.

Ok. Islam telah melepasi tapisan awalku tentang keagamaan.. Tetapi aku ingin bertanya beberapa soalan yang mendalam tentangnya.. Adakah Islam itu menyeluruh? Ya.. semua orang boleh faham kepercayaan yang asas ini. Tiada analogi atau persamaan yang diperlukan.. Adakah ianya selaras dengan Sains? Sudah tentu.. terdapat berdozen ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang Sains moden dan teknologi.

Semakin aku membuat kajian ke atas ratusan fakta logik yang aku baca dan buat kajian, satu perkara lagi mengetuk fikiranku…yang paling utama sekali Islam.. nama agama. Aku dapati ianya disebutkan banyak kali di dalam Al-Quran.

Walau bagaimanapun, mengingat semula kajianku yang lepas. Aku tak ingat pun melihat satu perkataan Judaism di dalam ‘Old Testament” atau Christianity di dalam ‘New Testament”. Perkara ini amat besar dan mustahak. Kenapakah kita tak jumpa nama agama masing-masing dalam kitab berkenaan? Sebab… memang tidak ada nama agama dalam kitab tersebut ..Saya pun berfikir.. Judaism datang daripada perkataan “Juda” dan “ism” sementara Christinity daripada perkataan “Christ” dan ” ianity”…

Jadi siapakah Juda ini? Dia adalah ketua kabilah Hebrew ketika tuhan menurunkan wahyu kepada manusia. Jadi agama ini dinamakan daripada nama seseorang.. Ok.. kita tengok pula siapakah Jesus Christ. Dia adalah orang yang menyampaikan risalah tuhan kepada golongan Yahudi. Jadi, kesimpulannya agama ini dinamakan dengan nama manusia.

Bercanggah dengan fakta, agama Judaism dan Christinity tidak ada disebutkan dalam kitab suci mereka.. Bagi aku ini sangat pelik.. aku tak boleh terima.

Kalaulah aku jual barang dari rumah ke rumah dan aku cakap pada tuan rumah “Tuan nak beli barangan (tiada nama)? Tentu sekali jawapan logik adalah “Apakah barangan (tiada nama) ini dipanggil?.. Pasti saya takkan dapat menjual walau satu produk pun yang tiada nama, bukan ?

Menamakan sesuatu adalah perkara asas manusia menentukan objek baik secara fizikal atau bukan fizikal. Kalau agama yang hendak dianuti dan disebar kepada manusia di atas mukabumi, tentu sekali ianya mesti ada nama.

Sudah tentu sekali nama agama adalah nama yang diberikan oleh tuhan yang maha Esa? Aku yakin macam tu… tepat sekali.. Nama Judaism dan Christianity tidak ditulis dalam kitab suci mereka, manusia yang ciptakannya bukan tuhan. Kenyataan yang tuhan menurunkan agama untuk manusia ikuti tanpa nama adalah mustahil pada pendapat aku… Tak masuk akal.

Pada hujah ini, Judaism dan Christianity dah hilang kredibiliti sebagai asli, logik dan menyeluruh sebagai sebuah agama daripada pandanganku. Islam adalah hanya satu agama yang ada nama agamanya tercatat dalam kitab suci,,,, ini sangat penting dan bermakna bagiku.

Aku kini menyedari aku wajib mengikuti Islam…….kemudian aku mengucap syahadah…aku bersyukur diketemukan dengan kebenaran. Dulu aku dalam kegelapan ..kini aku dalam cahaya kebenaran..

Allahu Akbar…….

Oleh Michael David Shapiro 

Wallahualam..” 

Sumber: http://www.zaharuddin.net/index.php?option=com_content&task=view&id=716&Itemid=72